Kamis, 21 Januari 2016

Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert pada Remaja

Jurnal Psikologi Udayana 2013, Vol. 1, No. 1, 106-115


 Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian
Ekstrovert dan Introvert pada Remaja

Jurnal ini membahas tentang perbedaan interaksi komunikasi melalui jejaring social antara orang yang berkepribadian ekstrovet dan introvert pada remaja, kemajuan teknologi pada jaman sekarang yaitu Kemajuan teknologi komunikasi informasi salah satunya ditandai dengan meningkatnya penggunaan media jejaring sosial. Pengguna jejaring sosial sebagian besar adalah kelompok remaja, keberadaan media jejaring sosial dapat menimbulkan dampak positif dan jugadampaknegatif padamasyarakat khususnya remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja. Menurut Devito (dalam Sulaeman, 2010) sifat komunikasi terbagi dalam 2 jenis yaitu komunikasi secara langsung dan tidak langsung, komunikasi langsung merupakan komunikasi yang dilakukan dengan saling bertatap muka dalam suatu aktivitas komunikasi tanpa menggunakan perantara media, sedangkan komunikasi secara tidak langsung merupakan komunikasi yang dilakukan dengan tidak bertemu secara langsung dalam suatu aktivitas komunikasi, komunikasi dilakukan dengan menggunakan perantara mediaseperti email, handphone, jejaring sosial, dan yahoo messenger.
Kemajuan teknologi komunikasi dapat membantu manusia untuk berinteraksi satu sama lain tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Salah satu contoh perkembangan teknologi komunikasi yang ada di masyarakat adalah munculnya berbagai media jejaring sosial seperti twitter, facebook, myspace dan friendster. Keistimewaan dari jejaring sosial adalah kemampuan dalam keluasan jaringan dan kecepatan informasi yang dapat memfasilitasi tuntutan dan kebutuhan komunikasi dari berbagai kalangan masyarakat yang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui jejaring sosial sebagai kebutuhan dan gaya hidup yang didukung dengan tersedianya berbagai jenis handphone dan perangkat elektronik yang menyediakan berbagai fitur khusus sehingga dapat langsung tersambung di jejaring sosial. Data Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2011 menunjukkan terdapat 64% pengguna jejaring sosial di Indonesia adalah kelompok remaja (Hariyanti, 2011), Tingginya penggunaan jejaring sosial dikalangan remaja menunjukkan bahwa remaja begitu antusias dalam menggunakan media jejaring sosial untuk melakukan komunikasi. Kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain pada umumnya tinggi ketika manusia berada pada tahap perkembangan remaja (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, melibatkan perubahan biologis, kognitif dan sosial.Perubahan biologis ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan, perubahan hormonal dan kematangan organ seksual yang ditandai dengan pubertas,kematangan secara kognitif melibatkan perubahan pemikiran dan intelegensi individu.Secara sosial ditandai dengan adanya tuntutan untuk mencapai kemandirian dan perubahan dalam menjalin relasi dengan orang lain dalam konteks sosial (Santrock, 2007).
Khususnya pada masa remaja pertengahan, seseorang lebih banyak membutuhkan interaksi dengan orang lain untukmemperoleh pembanding dirinya baik mengenai sikap, pendapat, pikiran atau yang lainnya yang berkaitan dengan pembentukan jati diri (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011).Berdasarkan data dari World Economic Forum tingginya penggunaan internet di Indonesia karena adanya berbagai jejaring sosial yang mudah diakses dan sesuai untuk kebutuhan penggunanya seperti facebook, dan twitter(Sunggiardi, 2012). Jumlah pengguna facebook di Indonesia saat ini sebesar 40,4 juta orang dan menduduki peringkat kedua pengguna facebook terbesar di dunia, sedangkan penggunaan twitter berada di peringkat keempat sebanyak 22% dari pengguna twitter di dunia (Arfika, 2012). Perkembangan dalam dunia komunikasi menciptakan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan sosial dan peradaban manusia.Keberadaan media jejaring sosial dapat menimbulkan dampak positif dan juga dampak negatif pada masyarakat khususnya remaja.Dampak positif media jejaring sosial adalah memperluas jaringan pertemanan, sebagai media penyebaran informasi dan sarana untuk mengembangkan keterampilan, sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan jejaring sosial secara berlebihan antara lain kecanduan internet, pencurian identitas, dan meningkatnya sifat antisosial (Raihana, 2009). Semakin banyak masyarakat yang menggunakan jejaring sosial, maka semakin banyak hal positif maupun negatif yang dapat ditimbulkan baik untuk pengguna maupun lingkungan sekitarnya.Jejaring sosial merupakan layanan internet yang ditujukan sebagai komunitas online bagi pengguna yang memiliki kesamaan aktivitas, ketertarikan, atau kesamaan latar balakang pada bidang tertentu.Jejaring sosial juga didefinisikan sebagai jaringan pertemanan yang dilengkapi dengan beragam fitur bagi penggunanya sehingga dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi (Imran, 2009). Penggolongan tipe kepribadian ekstrovert dan introvertdapat menggambarkan pola komunikasi dan interaksi sosial setiap individu. Pada saat berkomunikasai dan berinteraksi dengan orang lain, individu dengan tipe kepribadian ekstrovert adalah individu dengan karakteristik utama yaitu mudah bergaul, impulsif, tetapi juga sifat gembira, aktif,cakap dan optimis serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan penghargaan atas hubungan dengan orang lain, sedangkan individu dengan kepribadian introvert adalah individu yang memiliki karakteristik yang berlawanan dengan tipe kepribadian ekstrovert, yang cenderung pendiam, pasif, tidak mudah bergaul, teliti, pesimis, tenang dan terkontrol (Feist & Feist, 2010).Secara umum, individu yang tergolong introvert akan lebih berorientasi pada stimulus internal


TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT PADA REMAJA
individu yang tergolong ekstrovert. Individu yang tergolong introvert akan lebih memperhatikan pikiran, suasana hati dan reaksi-reaksi yang terjadi dalam diri mereka. Hal ini membuat individu yang tergolong introvert cenderung lebih pemalu, memiliki control diri yang kuat, dan memiliki keterpakuan terhadap hal-hal yang terjadi dalam diri mereka serta selalu berusaha untuk mawas diri, tampak pendiam, tidak ramah, lebih suka menyendiri, dan mengalami hambatan pada kualitas tingkah laku yang ditampilkan. Sedangkan individu yang tergolong ekstrovert cenderung tampak lebih bersemangat, mudah bergaul, terkesan impulsif dalam menampilkan tingkah laku. Individu yang tergolong ekstrovert merupakan seseorang yang berani melanggar aturan, memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa sakit, dan lebih mudah terlibat dalam suatu relasi (Burger, 2008).
Intensitas komunikasi yang dilakukan individu berkaitan dengan faktor tipe kepribadian yang dimiliki yang dimiliki masing–masing individu, pada tipe kepribadian ekstrovert maupun introvert.Berdasarkan pertimbangan tersebut, peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja.Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam ilmu psikologi, khususnya psikologi komunikasi dan psikologi sosial terkait dengan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial pada remaja.Manfaat praktis dari penelitian ini yaitu remaja mampu menggunakan jejaring sosial secara proporsional dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tipe kepribadian.

 Variabel bebas pada penelitian ini yaitutipe kepribadian ekstrovert dan introvert dan variabel tergantungnya yaitu intensitas komunikasi.
Definisi operasional dari variabel tipe kepribadian ekstrovert adalah seseorang yang memiliki sifat periang dalam berbagai kesempatan, mudah mengambil keputusan, mudah bergaul, senang menerima tantangan, agresif, dan berubah–ubah, sedangkan individu dengan tipe kepribadian introvert merupakan seseorang yang sulit dalam mengambil keputusan, lebihsuka menyendiri, bersikap hati – hati, pasif dan pendiam.
Definisi operasional dari variabel intensitas komunikasi melalui jejaring sosial adalah komunikasi yang dilakukan oleh pengguna jejaring sosial dengan orang lain secara online. Intensitas komunikasi diukur dengan berdasarkan enam aspek intensitas komunikasi antara lain yaitu frekuensi berkomunikasi, durasi yang digunakan untuk berkomunikasi, perhatian yang diberikan saat berkomunikasi, keteraturan dalam berkomunikasi, tingkat keluasan pesan saat berkomunikasi dan jumlah orang yang diajak berkomunikasi, serta tingkat kedalaman pesan saat berkomunikasi.
Responden dalam penilitia ini adalah siswa SMA  Negri di kota denpasar. Karakteristik 15-18 tahun, bersedia untuk menjadi responden penelitian, dan menggunakan jejaring sosial lebih dari 6 bulan. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified proporsional randomsampling. Teknik sampling ini dilakukan dengan membagi anggota populasi dalam beberapa sub kelompok atau strata, kemudian sampel dipilih dari masing-masing strata secara acak berdasarkan status sekolah SMA. pada sekolah-sekolah yang terpilih selanjutnya dilakukan pemilihan sampel di masing masing sekolah secara acak untuk mendapat keterwakilan sampel dari masing masing kelas yang ada secara proporsional. Pemilihan sampel pada masing masing kelas menggunakan data list yang sudah ada, dan bila terdapat sampel terpilih berhalangan akan digantikan oleh sampel dengan nomor urut dibawahnya hingga mendapatkan jumlahyang diharapkan.Berdasarkan hasil proses pengambilan sampel penelitian secara acak terpilih sekolah SMA Negeri 2 Denpasar, SMA Negeri 3 Denpasar dan SMA Negeri 5 Denpasar sebagaitempat penelitian.Dalam menentukan jumlah populasi pada penelitian ini menggunakan rumus jumlah sampel menurut Higgins (dalam Bartlett, Kotrlik, &Higgins, 2001) sehingga diperoleh hasil jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 240 siswa.
Alat ukur yang digunakan pada Skala pengukuran tipe kepribadian ini menggunakan alat tes EPI(Eysenck Persoality Inventory). EPI adalah alat ukur kepribadian dari Eysenck yang telah baku, EPI digunakan untuk menggolongkan individu ke dalam beberapa tipe kepribadiandengan pilihan jawaban adalah “ya” dan “tidak” (Asriasa, 2010). Dalam alat ukur EPI ini peneliti hanya menggunakan dan menilai aspek yang mengandung penilaian tentang ekstrovert dan introvert yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Kuesioner terdiri dari 23 item pertanyaan.Jawaban responden kemudian disesuaikan dengan kriteria (kunci) jawaban dari tes kepribadian EPIyang telah ada. Apabila jawaban responden sesuai atau sama dengan kriteria jawaban, maka diberi nilai “1”. Apabila jawaban responden tidak sama dengan kriteria jawaban maka dinilai “0”. Lalu jumlah skor skala dicocokkan dengan norma, norma yang dipakai dalam penggolongan tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Skor ekstrovert mempunyai nilai ≥ 12, sedangkan introvert mempunyai nilai ≤ Skala Pengukuran Intensitas Komunikasi terdiri dari pernyataan favorabel dan unfavorabelyang terbagi dalam empat alternatif jawaban, yakni „sangat tidak setuju‟, „tidak setuju‟, „setuju‟, dan „sangat setuju‟. Kedua skala tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
Metode pengumpulan data nya adalah dengan menggunakan dengan menggunakan 2 kuesioner, yaitu kuesioner tipe kepribadian dan intensitas komunikasi. Kuesioner tipe kepribadian digunakan untuk mengelompokan responden kedalam tipe kepribadian ekstrovert dan introvert dengan menggunakan kuesioner dengan bentuk pertanyaan yang diadaptasi dari alat tes EPI (Eysenck Personality Inventory) yang diberikan kepada responden untuk pemilihan dan penggolongan responden penelitian, kuesioner untuk mengukur intensitas komunikasi tersedia empat pilihan jawaban, yakni „sangat tidak setuju‟, „tidak setuju‟, „setuju‟, dan „sangat setuju‟, dalam kuesioner terdapat arahan mengenai cara menjawab kuesioner, responden diwajibkan untuk memilih salah satu dari alternatif jawaban dan juga mengisi lembaran identitas responden.
Tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja analisis data ini digunakan untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel yang berbeda, dan untuk mengetahui perbedaan mean antara dua populasi dengan membandingkan dua mean sample-nya (Sugiyono, 2010).Dalam melakukan analisis data, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu dilakukannya uji asumsi berupa uji normalitas dan uji homogenitas dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0 (Sugiyono,2010 ). Uji normalitas merupakan uji yang dilakukan untuk membuktikan data dari sampel yang dimiliki berasal dari yang populasi berdistribusi normal, pengujian dilakukan dengan kolmogorov-smirnov, data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05 atau 5% (Arikunto, 2006). Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel mempunyaivarian yang homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansnya menggunakan levene‟s test dengan bantuan perangkat lunak SPSS 17.0. Nilai probalitas lebih besar dari 0,05 maka data berasal dari populasi yang variansnya samaatau homogen (Sugiyono, 2010).
HASIL PENELITIAN
Uji coba alat ukur dalam penelitian ini dilakukan terhadap responden penelitian, yaitu siswa SMA Negeri di kota Denpasar yang dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 5 November 2012. Uji coba penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 60 orang responden. Data yang telah diperoleh pada saat melakukan uji coba alat ukur penelitian akan dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Berdasarkan hasil uji coba item yang terdiri dari 35 item kepada 60 orang subyek, diperoleh koefisien korelasi yang bergerak dari -0,121 sampai 0,757. Sesuai dengantaraf signifikan 5% pada tabel korelasi product moment dengan nilai kritis koefisien korelasi (t tabel) sebesar 0,113, menyatakan bahwa suatu item dapat dinyatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel, dalam penelitian ini item yang memiliki nilai koefisien korelasi dibawah nilai kritis koefisien korelasi (t tabel) digugurkan, sehingga terdapat 7 item gugur dan 28 item valid pada skala intensitas komunikasi, dengan indeks koefisien korelasi yang bergerak dari 0,232-0,742.
Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas koefisien alpha (α) pada skala intensitas komunikasipada saat uji coba adalah 0,907, sedangkan hasil koefisien alpha(α) pada saat penelitian adalah 0,886, hal ini menunjukkan bahwa alat ukur intensitas komunikasi dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang baik. Pada skala tipekepribadian, peneliti menggunakan alat tes EPI (Eysenck Personality Inventory) yang sudah baku. Hasil adaptasi alat ukur itu telah banyak digunakan di Indonesia dengan validitas internal konsistensi yang baik dan tingkat reliabilitas alpha cronbach‟s berkisar antara 0,89–0,93 untuk ekstrovert-introvert (Syafiq, 2010).Dari hasil uji normalitas awal dengan sampel 240 orang, diketahui bahwa sebaran data pada variabel intensitas komunikasi memiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0.027 atau memiliki probabilitas dibawah 0,05 (p < 0,05), hal tersebut menunjukan bahwa data berdistribusi tidak normal. Berdasarkan penjelasan pada bab III tentang normalitas, adapun cara agar data dapat berdistribusi normal, dapat dilakukan dengan cara menghilangkan outliers dari sampel penelitian dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0. Hasil yang diperoleh setelah menghilangkan outliers sebanyak 22orang responden, sehingga sebaran data pada variabel intensitas komunikasi memiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0.084 atau memiliki probabilitas di atas 0,05 (p > 0,05) dengan jumlah sampel terpilih yaitu 218. Dengan mengacu kepada pedoman penentuan normalitas data seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menunjukkan bahwa sebaran data pada variabel intensitas komunikasi dalam penelitian ini adalah bersifat normal.Hasil uji homogenitas telah dilampirkan dalam halaman lampiran. Dari hasil uji homogenitas, diketahui bahwa varianspada setiap kelompok penelitianmemiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0,075 atau memiliki probabilitas di atas 0,05, haltersebut menunjukkan bahwa varianpada setiap kelompok yang diuji dalam penelitian bersifat homogen.
Setelah kedua syarat untuk melakukan analisis data telah dipenuhi, dilanjutkan dengan menggunakan metode analisis independent samples t test dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0.
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai signifikansi p sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 pada taraf signifikan 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja, sehingga hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Ada K. S. WIDIANTARIDAN DAN Y. K. HERDIYANTO 112 perbedaan intensitas komunikasi melalui media jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja” dapat diterima, sedangkan hipotesis nol (Ho) yang berbunyi “Tidak ada perbedaan intensitas komunikasi melalui media jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja” ditolak.
Terkait dengan adanya perbedaan intensitas komunikasi pada kedua kelompok tipe kepribadian, dapat diperjelas dengan adanya pengkategorian kelompok yang memiliki skor intensitas komunikasi dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Pengkategorian ini dilakukan dengan menggunakan rumus pengkategorian skor dari Azwar (2000).
Berdasarkan kasus di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok introvert memiliki skor intensitas komunikasi yangrendah,sedangkan kelompok ekstrovert memiliki skor intensitas komunikasi yang tinggi.

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki suatu kebutuhan atau keinginan untuk menciptakan, menjalin dan menjaga suatu hubungan positif dengan orang lain (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011). Dalam menjalin komunikasi perbedaan dapat terlihat pada tipe kepribadian ekstrovert dan introvert, yaitu individu introvert mempunyai kesulitan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, hal ini dikarenakanindividu introvert mencurahkan fokos lebih kedalam diri dari pada diluar dirinya, individu introvert kurang memberikan perhatian lebih terhadap orang-orang yang ada disekitarnya dan lebih merasa nyaman dalam kesendirian serta tergolong orang yang mempunyai sifat pemalu. Hal ini sangat berbeda dengan tipe ekstrovert yang mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta tidak mengalami kesulitan untuk dapat menjalin hubungan sosial dengan orang-orang disekitarnya (Suryabrata, 2002).
Menurut Jung (dalam Friedman & Schustack, 2008)individu dengan tipe kepribadian ekstrovert mempunyai karakteristik lebih ekspresif dalam menyampaikan setiap emosi yang dirasakannya, sehingga hal tersebut membuat orang dengan tipe kepribadian ekstrovert akan lebih mudah untuk mengekspresikan setiap emosi yang dirasakan dengan cara senantiasa menjalin komunikasi secara rutin serta memiliki sifat terbuka, individudengan tipe kepribadian ekstrovert tidak mempersalahkan untuk menyampaikan segala hal, perasaan dan emosi yang dirasakannya melalui berbagai media, salah satunya yaitu jejaring sosial.Pengguna jejaring sosial dengan tipe kepribadian introvert, tidak mudah untuk mengekspresikan dan menyatakan segala hal yang dirasakannya melalui jejaring sosial. Hal ini disebabkan karena tipe kepribadian introvert lebih cenderung mempunyai sifat tertutup, kurang ekspresif dan cenderung berpikir secara mendalam sebelum memutuskan untuk melakukan suatu tindakan(Friedman & Schustack, 2008). Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa jejaring sosial telah mampu memfasilitasi remaja untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain tanpa dibatasi jarak dan waktu, sehingga pengguna jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan komunikasi mereka, sehingga hasilnya adalah semakin tinggi intensitas komunikasi menggunakan jejaring sosial, semakin memenuhi kebutuhan individu untuk mencari dan menjalin pertemanan dengan orang lain (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011).

Hal tersebut menunjukan bahwa intensitas komunikasi individu dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih tinggi dibandingkan individu dengan kepribadian introvert. Penjelasan mengenai intensitas komunikasi yang tinggi pada individu dengan kepribadian ekstrovert, dijelaskan Jung (dalam Suryabrata, 2002), Jung menyatakan bahwa pada dasarnya individu dengan tipe kepribadian introvert cenderung lebih menyukai aktivitas yang tidak melibatkan orang-orang disekitarnya dan memberikan perhatian lebih berpusat pada diri sendiri. Hal inilah juga yang membedakan kebutuhan komunikasi antara tipe kepribadian introvert dengan tipe kepribadian ekstrovert, hal ini dikarenakanindividu dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih menyukai aktivitas yang melibatkan banyak orang dan lebih berfokus pada dunia diluar dirinya atau dapat diartikan lebih mencurahkan perhatian kepada orang-orang yang ada disekitarnya dibandingkan diri sendiri.
Berdasarkan perbedaan-perbedaan karakteristik yang terdapat pada individu dengan tipe kepribadian ekstrovert dan introvert, sesungguhnya hal inilah yang menyebabkan perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara individu dengan tipe kepribadian ekstrovert mempunyai intensitas komunikasi yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan tipe kepribadian introvert.

Selanjutnya peneliti mencoba untuk mengkaji secara lebih dalam beberapa hal terkait dengan komunikasi melalui jejaring sosial, antara lain yaitu perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosialantara laki-laki dan perempuan, analisis untuk uji perbedaan menggunakan independent sampel t-test. TIPE

Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert pada Remaja

Jurnal Psikologi Udayana 2013, Vol. 1, No. 1, 106-115 Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert pada Remaja Jurnal ini membahas tentang perbedaan interaksi komunikasi melalui jejaring social antara orang yang berkepribadian ekstrovet dan introvert pada remaja, kemajuan teknologi pada jaman sekarang yaitu Kemajuan teknologi komunikasi informasi salah satunya ditandai dengan meningkatnya penggunaan media jejaring sosial. Pengguna jejaring sosial sebagian besar adalah kelompok remaja, keberadaan media jejaring sosial dapat menimbulkan dampak positif dan jugadampaknegatif padamasyarakat khususnya remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja. Menurut Devito (dalam Sulaeman, 2010) sifat komunikasi terbagi dalam 2 jenis yaitu komunikasi secara langsung dan tidak langsung, komunikasi langsung merupakan komunikasi yang dilakukan dengan saling bertatap muka dalam suatu aktivitas komunikasi tanpa menggunakan perantara media, sedangkan komunikasi secara tidak langsung merupakan komunikasi yang dilakukan dengan tidak bertemu secara langsung dalam suatu aktivitas komunikasi, komunikasi dilakukan dengan menggunakan perantara mediaseperti email, handphone, jejaring sosial, dan yahoo messenger. Kemajuan teknologi komunikasi dapat membantu manusia untuk berinteraksi satu sama lain tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Salah satu contoh perkembangan teknologi komunikasi yang ada di masyarakat adalah munculnya berbagai media jejaring sosial seperti twitter, facebook, myspace dan friendster. Keistimewaan dari jejaring sosial adalah kemampuan dalam keluasan jaringan dan kecepatan informasi yang dapat memfasilitasi tuntutan dan kebutuhan komunikasi dari berbagai kalangan masyarakat yang memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui jejaring sosial sebagai kebutuhan dan gaya hidup yang didukung dengan tersedianya berbagai jenis handphone dan perangkat elektronik yang menyediakan berbagai fitur khusus sehingga dapat langsung tersambung di jejaring sosial. Data Kementerian Komunikasi dan Informasi RI tahun 2011 menunjukkan terdapat 64% pengguna jejaring sosial di Indonesia adalah kelompok remaja (Hariyanti, 2011), Tingginya penggunaan jejaring sosial dikalangan remaja menunjukkan bahwa remaja begitu antusias dalam menggunakan media jejaring sosial untuk melakukan komunikasi. Kebutuhan untuk memiliki hubungan dengan orang lain pada umumnya tinggi ketika manusia berada pada tahap perkembangan remaja (Papalia, Olds, & Feldman, 2007). Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, melibatkan perubahan biologis, kognitif dan sosial.Perubahan biologis ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan, perubahan hormonal dan kematangan organ seksual yang ditandai dengan pubertas,kematangan secara kognitif melibatkan perubahan pemikiran dan intelegensi individu.Secara sosial ditandai dengan adanya tuntutan untuk mencapai kemandirian dan perubahan dalam menjalin relasi dengan orang lain dalam konteks sosial (Santrock, 2007). Khususnya pada masa remaja pertengahan, seseorang lebih banyak membutuhkan interaksi dengan orang lain untukmemperoleh pembanding dirinya baik mengenai sikap, pendapat, pikiran atau yang lainnya yang berkaitan dengan pembentukan jati diri (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011).Berdasarkan data dari World Economic Forum tingginya penggunaan internet di Indonesia karena adanya berbagai jejaring sosial yang mudah diakses dan sesuai untuk kebutuhan penggunanya seperti facebook, dan twitter(Sunggiardi, 2012). Jumlah pengguna facebook di Indonesia saat ini sebesar 40,4 juta orang dan menduduki peringkat kedua pengguna facebook terbesar di dunia, sedangkan penggunaan twitter berada di peringkat keempat sebanyak 22% dari pengguna twitter di dunia (Arfika, 2012). Perkembangan dalam dunia komunikasi menciptakan pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan sosial dan peradaban manusia.Keberadaan media jejaring sosial dapat menimbulkan dampak positif dan juga dampak negatif pada masyarakat khususnya remaja.Dampak positif media jejaring sosial adalah memperluas jaringan pertemanan, sebagai media penyebaran informasi dan sarana untuk mengembangkan keterampilan, sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan akibat penggunaan jejaring sosial secara berlebihan antara lain kecanduan internet, pencurian identitas, dan meningkatnya sifat antisosial (Raihana, 2009). Semakin banyak masyarakat yang menggunakan jejaring sosial, maka semakin banyak hal positif maupun negatif yang dapat ditimbulkan baik untuk pengguna maupun lingkungan sekitarnya.Jejaring sosial merupakan layanan internet yang ditujukan sebagai komunitas online bagi pengguna yang memiliki kesamaan aktivitas, ketertarikan, atau kesamaan latar balakang pada bidang tertentu.Jejaring sosial juga didefinisikan sebagai jaringan pertemanan yang dilengkapi dengan beragam fitur bagi penggunanya sehingga dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi (Imran, 2009). Penggolongan tipe kepribadian ekstrovert dan introvertdapat menggambarkan pola komunikasi dan interaksi sosial setiap individu. Pada saat berkomunikasai dan berinteraksi dengan orang lain, individu dengan tipe kepribadian ekstrovert adalah individu dengan karakteristik utama yaitu mudah bergaul, impulsif, tetapi juga sifat gembira, aktif,cakap dan optimis serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan penghargaan atas hubungan dengan orang lain, sedangkan individu dengan kepribadian introvert adalah individu yang memiliki karakteristik yang berlawanan dengan tipe kepribadian ekstrovert, yang cenderung pendiam, pasif, tidak mudah bergaul, teliti, pesimis, tenang dan terkontrol (Feist & Feist, 2010).Secara umum, individu yang tergolong introvert akan lebih berorientasi pada stimulus internal TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT PADA REMAJA individu yang tergolong ekstrovert. Individu yang tergolong introvert akan lebih memperhatikan pikiran, suasana hati dan reaksi-reaksi yang terjadi dalam diri mereka. Hal ini membuat individu yang tergolong introvert cenderung lebih pemalu, memiliki control diri yang kuat, dan memiliki keterpakuan terhadap hal-hal yang terjadi dalam diri mereka serta selalu berusaha untuk mawas diri, tampak pendiam, tidak ramah, lebih suka menyendiri, dan mengalami hambatan pada kualitas tingkah laku yang ditampilkan. Sedangkan individu yang tergolong ekstrovert cenderung tampak lebih bersemangat, mudah bergaul, terkesan impulsif dalam menampilkan tingkah laku. Individu yang tergolong ekstrovert merupakan seseorang yang berani melanggar aturan, memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa sakit, dan lebih mudah terlibat dalam suatu relasi (Burger, 2008). Intensitas komunikasi yang dilakukan individu berkaitan dengan faktor tipe kepribadian yang dimiliki yang dimiliki masing–masing individu, pada tipe kepribadian ekstrovert maupun introvert.Berdasarkan pertimbangan tersebut, peneliti ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja.Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam ilmu psikologi, khususnya psikologi komunikasi dan psikologi sosial terkait dengan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial pada remaja.Manfaat praktis dari penelitian ini yaitu remaja mampu menggunakan jejaring sosial secara proporsional dengan memperhatikan kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tipe kepribadian. Variabel bebas pada penelitian ini yaitutipe kepribadian ekstrovert dan introvert dan variabel tergantungnya yaitu intensitas komunikasi. Definisi operasional dari variabel tipe kepribadian ekstrovert adalah seseorang yang memiliki sifat periang dalam berbagai kesempatan, mudah mengambil keputusan, mudah bergaul, senang menerima tantangan, agresif, dan berubah–ubah, sedangkan individu dengan tipe kepribadian introvert merupakan seseorang yang sulit dalam mengambil keputusan, lebihsuka menyendiri, bersikap hati – hati, pasif dan pendiam. Definisi operasional dari variabel intensitas komunikasi melalui jejaring sosial adalah komunikasi yang dilakukan oleh pengguna jejaring sosial dengan orang lain secara online. Intensitas komunikasi diukur dengan berdasarkan enam aspek intensitas komunikasi antara lain yaitu frekuensi berkomunikasi, durasi yang digunakan untuk berkomunikasi, perhatian yang diberikan saat berkomunikasi, keteraturan dalam berkomunikasi, tingkat keluasan pesan saat berkomunikasi dan jumlah orang yang diajak berkomunikasi, serta tingkat kedalaman pesan saat berkomunikasi. Responden dalam penilitia ini adalah siswa SMA Negri di kota denpasar. Karakteristik 15-18 tahun, bersedia untuk menjadi responden penelitian, dan menggunakan jejaring sosial lebih dari 6 bulan. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified proporsional randomsampling. Teknik sampling ini dilakukan dengan membagi anggota populasi dalam beberapa sub kelompok atau strata, kemudian sampel dipilih dari masing-masing strata secara acak berdasarkan status sekolah SMA. pada sekolah-sekolah yang terpilih selanjutnya dilakukan pemilihan sampel di masing masing sekolah secara acak untuk mendapat keterwakilan sampel dari masing masing kelas yang ada secara proporsional. Pemilihan sampel pada masing masing kelas menggunakan data list yang sudah ada, dan bila terdapat sampel terpilih berhalangan akan digantikan oleh sampel dengan nomor urut dibawahnya hingga mendapatkan jumlahyang diharapkan.Berdasarkan hasil proses pengambilan sampel penelitian secara acak terpilih sekolah SMA Negeri 2 Denpasar, SMA Negeri 3 Denpasar dan SMA Negeri 5 Denpasar sebagaitempat penelitian.Dalam menentukan jumlah populasi pada penelitian ini menggunakan rumus jumlah sampel menurut Higgins (dalam Bartlett, Kotrlik, &Higgins, 2001) sehingga diperoleh hasil jumlah sampel dalam penelitian ini yaitu 240 siswa. Alat ukur yang digunakan pada Skala pengukuran tipe kepribadian ini menggunakan alat tes EPI(Eysenck Persoality Inventory). EPI adalah alat ukur kepribadian dari Eysenck yang telah baku, EPI digunakan untuk menggolongkan individu ke dalam beberapa tipe kepribadiandengan pilihan jawaban adalah “ya” dan “tidak” (Asriasa, 2010). Dalam alat ukur EPI ini peneliti hanya menggunakan dan menilai aspek yang mengandung penilaian tentang ekstrovert dan introvert yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Kuesioner terdiri dari 23 item pertanyaan.Jawaban responden kemudian disesuaikan dengan kriteria (kunci) jawaban dari tes kepribadian EPIyang telah ada. Apabila jawaban responden sesuai atau sama dengan kriteria jawaban, maka diberi nilai “1”. Apabila jawaban responden tidak sama dengan kriteria jawaban maka dinilai “0”. Lalu jumlah skor skala dicocokkan dengan norma, norma yang dipakai dalam penggolongan tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Skor ekstrovert mempunyai nilai ≥ 12, sedangkan introvert mempunyai nilai ≤ Skala Pengukuran Intensitas Komunikasi terdiri dari pernyataan favorabel dan unfavorabelyang terbagi dalam empat alternatif jawaban, yakni „sangat tidak setuju‟, „tidak setuju‟, „setuju‟, dan „sangat setuju‟. Kedua skala tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Metode pengumpulan data nya adalah dengan menggunakan dengan menggunakan 2 kuesioner, yaitu kuesioner tipe kepribadian dan intensitas komunikasi. Kuesioner tipe kepribadian digunakan untuk mengelompokan responden kedalam tipe kepribadian ekstrovert dan introvert dengan menggunakan kuesioner dengan bentuk pertanyaan yang diadaptasi dari alat tes EPI (Eysenck Personality Inventory) yang diberikan kepada responden untuk pemilihan dan penggolongan responden penelitian, kuesioner untuk mengukur intensitas komunikasi tersedia empat pilihan jawaban, yakni „sangat tidak setuju‟, „tidak setuju‟, „setuju‟, dan „sangat setuju‟, dalam kuesioner terdapat arahan mengenai cara menjawab kuesioner, responden diwajibkan untuk memilih salah satu dari alternatif jawaban dan juga mengisi lembaran identitas responden. Tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja analisis data ini digunakan untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel yang berbeda, dan untuk mengetahui perbedaan mean antara dua populasi dengan membandingkan dua mean sample-nya (Sugiyono, 2010).Dalam melakukan analisis data, terdapat dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu dilakukannya uji asumsi berupa uji normalitas dan uji homogenitas dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0 (Sugiyono,2010 ). Uji normalitas merupakan uji yang dilakukan untuk membuktikan data dari sampel yang dimiliki berasal dari yang populasi berdistribusi normal, pengujian dilakukan dengan kolmogorov-smirnov, data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikansi lebih besar dari 0,05 atau 5% (Arikunto, 2006). Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel mempunyaivarian yang homogen atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansnya menggunakan levene‟s test dengan bantuan perangkat lunak SPSS 17.0. Nilai probalitas lebih besar dari 0,05 maka data berasal dari populasi yang variansnya samaatau homogen (Sugiyono, 2010). HASIL PENELITIAN Uji coba alat ukur dalam penelitian ini dilakukan terhadap responden penelitian, yaitu siswa SMA Negeri di kota Denpasar yang dilaksanakan pada tanggal 1 hingga 5 November 2012. Uji coba penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 60 orang responden. Data yang telah diperoleh pada saat melakukan uji coba alat ukur penelitian akan dianalisis untuk mengetahui validitas dan reliabilitasnya. Berdasarkan hasil uji coba item yang terdiri dari 35 item kepada 60 orang subyek, diperoleh koefisien korelasi yang bergerak dari -0,121 sampai 0,757. Sesuai dengantaraf signifikan 5% pada tabel korelasi product moment dengan nilai kritis koefisien korelasi (t tabel) sebesar 0,113, menyatakan bahwa suatu item dapat dinyatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel, dalam penelitian ini item yang memiliki nilai koefisien korelasi dibawah nilai kritis koefisien korelasi (t tabel) digugurkan, sehingga terdapat 7 item gugur dan 28 item valid pada skala intensitas komunikasi, dengan indeks koefisien korelasi yang bergerak dari 0,232-0,742. Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas koefisien alpha (α) pada skala intensitas komunikasipada saat uji coba adalah 0,907, sedangkan hasil koefisien alpha(α) pada saat penelitian adalah 0,886, hal ini menunjukkan bahwa alat ukur intensitas komunikasi dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang baik. Pada skala tipekepribadian, peneliti menggunakan alat tes EPI (Eysenck Personality Inventory) yang sudah baku. Hasil adaptasi alat ukur itu telah banyak digunakan di Indonesia dengan validitas internal konsistensi yang baik dan tingkat reliabilitas alpha cronbach‟s berkisar antara 0,89–0,93 untuk ekstrovert-introvert (Syafiq, 2010).Dari hasil uji normalitas awal dengan sampel 240 orang, diketahui bahwa sebaran data pada variabel intensitas komunikasi memiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0.027 atau memiliki probabilitas dibawah 0,05 (p < 0,05), hal tersebut menunjukan bahwa data berdistribusi tidak normal. Berdasarkan penjelasan pada bab III tentang normalitas, adapun cara agar data dapat berdistribusi normal, dapat dilakukan dengan cara menghilangkan outliers dari sampel penelitian dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0. Hasil yang diperoleh setelah menghilangkan outliers sebanyak 22orang responden, sehingga sebaran data pada variabel intensitas komunikasi memiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0.084 atau memiliki probabilitas di atas 0,05 (p > 0,05) dengan jumlah sampel terpilih yaitu 218. Dengan mengacu kepada pedoman penentuan normalitas data seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, menunjukkan bahwa sebaran data pada variabel intensitas komunikasi dalam penelitian ini adalah bersifat normal.Hasil uji homogenitas telah dilampirkan dalam halaman lampiran. Dari hasil uji homogenitas, diketahui bahwa varianspada setiap kelompok penelitianmemiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0,075 atau memiliki probabilitas di atas 0,05, haltersebut menunjukkan bahwa varianpada setiap kelompok yang diuji dalam penelitian bersifat homogen. Setelah kedua syarat untuk melakukan analisis data telah dipenuhi, dilanjutkan dengan menggunakan metode analisis independent samples t test dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai signifikansi p sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 pada taraf signifikan 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja, sehingga hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Ada K. S. WIDIANTARIDAN DAN Y. K. HERDIYANTO 112 perbedaan intensitas komunikasi melalui media jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja” dapat diterima, sedangkan hipotesis nol (Ho) yang berbunyi “Tidak ada perbedaan intensitas komunikasi melalui media jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja” ditolak. Terkait dengan adanya perbedaan intensitas komunikasi pada kedua kelompok tipe kepribadian, dapat diperjelas dengan adanya pengkategorian kelompok yang memiliki skor intensitas komunikasi dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah. Pengkategorian ini dilakukan dengan menggunakan rumus pengkategorian skor dari Azwar (2000). Berdasarkan kasus di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok introvert memiliki skor intensitas komunikasi yangrendah,sedangkan kelompok ekstrovert memiliki skor intensitas komunikasi yang tinggi. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN Manusia sebagai makhluk sosial memiliki suatu kebutuhan atau keinginan untuk menciptakan, menjalin dan menjaga suatu hubungan positif dengan orang lain (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011). Dalam menjalin komunikasi perbedaan dapat terlihat pada tipe kepribadian ekstrovert dan introvert, yaitu individu introvert mempunyai kesulitan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, hal ini dikarenakanindividu introvert mencurahkan fokos lebih kedalam diri dari pada diluar dirinya, individu introvert kurang memberikan perhatian lebih terhadap orang-orang yang ada disekitarnya dan lebih merasa nyaman dalam kesendirian serta tergolong orang yang mempunyai sifat pemalu. Hal ini sangat berbeda dengan tipe ekstrovert yang mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta tidak mengalami kesulitan untuk dapat menjalin hubungan sosial dengan orang-orang disekitarnya (Suryabrata, 2002). Menurut Jung (dalam Friedman & Schustack, 2008)individu dengan tipe kepribadian ekstrovert mempunyai karakteristik lebih ekspresif dalam menyampaikan setiap emosi yang dirasakannya, sehingga hal tersebut membuat orang dengan tipe kepribadian ekstrovert akan lebih mudah untuk mengekspresikan setiap emosi yang dirasakan dengan cara senantiasa menjalin komunikasi secara rutin serta memiliki sifat terbuka, individudengan tipe kepribadian ekstrovert tidak mempersalahkan untuk menyampaikan segala hal, perasaan dan emosi yang dirasakannya melalui berbagai media, salah satunya yaitu jejaring sosial.Pengguna jejaring sosial dengan tipe kepribadian introvert, tidak mudah untuk mengekspresikan dan menyatakan segala hal yang dirasakannya melalui jejaring sosial. Hal ini disebabkan karena tipe kepribadian introvert lebih cenderung mempunyai sifat tertutup, kurang ekspresif dan cenderung berpikir secara mendalam sebelum memutuskan untuk melakukan suatu tindakan(Friedman & Schustack, 2008). Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa jejaring sosial telah mampu memfasilitasi remaja untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan orang lain tanpa dibatasi jarak dan waktu, sehingga pengguna jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan komunikasi mereka, sehingga hasilnya adalah semakin tinggi intensitas komunikasi menggunakan jejaring sosial, semakin memenuhi kebutuhan individu untuk mencari dan menjalin pertemanan dengan orang lain (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011). Hal tersebut menunjukan bahwa intensitas komunikasi individu dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih tinggi dibandingkan individu dengan kepribadian introvert. Penjelasan mengenai intensitas komunikasi yang tinggi pada individu dengan kepribadian ekstrovert, dijelaskan Jung (dalam Suryabrata, 2002), Jung menyatakan bahwa pada dasarnya individu dengan tipe kepribadian introvert cenderung lebih menyukai aktivitas yang tidak melibatkan orang-orang disekitarnya dan memberikan perhatian lebih berpusat pada diri sendiri. Hal inilah juga yang membedakan kebutuhan komunikasi antara tipe kepribadian introvert dengan tipe kepribadian ekstrovert, hal ini dikarenakanindividu dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih menyukai aktivitas yang melibatkan banyak orang dan lebih berfokus pada dunia diluar dirinya atau dapat diartikan lebih mencurahkan perhatian kepada orang-orang yang ada disekitarnya dibandingkan diri sendiri. Berdasarkan perbedaan-perbedaan karakteristik yang terdapat pada individu dengan tipe kepribadian ekstrovert dan introvert, sesungguhnya hal inilah yang menyebabkan perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara individu dengan tipe kepribadian ekstrovert mempunyai intensitas komunikasi yang lebih tinggi dibandingkan individu dengan tipe kepribadian introvert. Selanjutnya peneliti mencoba untuk mengkaji secara lebih dalam beberapa hal terkait dengan komunikasi melalui jejaring sosial, antara lain yaitu perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosialantara laki-laki dan perempuan, analisis untuk uji perbedaan menggunakan independent sampel t-test. TIPE