Jurnal
Psikologi Udayana 2013, Vol. 1, No. 1, 106-115
Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui
Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian
Ekstrovert dan Introvert pada Remaja
Jurnal ini membahas tentang perbedaan
interaksi komunikasi melalui jejaring social antara orang yang berkepribadian
ekstrovet dan introvert pada remaja, kemajuan teknologi pada jaman sekarang
yaitu Kemajuan teknologi komunikasi informasi salah satunya ditandai dengan
meningkatnya penggunaan media jejaring sosial. Pengguna jejaring sosial
sebagian besar adalah kelompok remaja, keberadaan media jejaring sosial dapat
menimbulkan dampak positif dan jugadampaknegatif padamasyarakat khususnya
remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan intensitas
komunikasi melalui jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan
introvert pada remaja. Menurut Devito (dalam Sulaeman, 2010) sifat komunikasi
terbagi dalam 2 jenis yaitu komunikasi secara langsung dan tidak langsung,
komunikasi langsung merupakan komunikasi yang dilakukan dengan saling bertatap
muka dalam suatu aktivitas komunikasi tanpa menggunakan perantara media,
sedangkan komunikasi secara tidak langsung merupakan komunikasi yang dilakukan
dengan tidak bertemu secara langsung dalam suatu aktivitas komunikasi,
komunikasi dilakukan dengan menggunakan perantara mediaseperti email,
handphone, jejaring sosial, dan yahoo messenger.
Kemajuan
teknologi komunikasi dapat membantu manusia untuk berinteraksi satu sama lain
tanpa dibatasi oleh jarak dan waktu. Salah satu contoh perkembangan teknologi
komunikasi yang ada di masyarakat adalah munculnya berbagai media jejaring
sosial seperti twitter, facebook, myspace dan friendster. Keistimewaan dari
jejaring sosial adalah kemampuan dalam keluasan jaringan dan kecepatan
informasi yang dapat memfasilitasi tuntutan dan kebutuhan komunikasi dari
berbagai kalangan masyarakat yang memberikan kemudahan dalam mengakses
informasi. Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi melalui jejaring sosial sebagai
kebutuhan dan gaya hidup yang didukung dengan tersedianya berbagai jenis
handphone dan perangkat elektronik yang menyediakan berbagai fitur khusus
sehingga dapat langsung tersambung di jejaring sosial. Data Kementerian Komunikasi
dan Informasi RI tahun 2011 menunjukkan terdapat 64% pengguna jejaring sosial
di Indonesia adalah kelompok remaja (Hariyanti, 2011), Tingginya penggunaan
jejaring sosial dikalangan remaja menunjukkan bahwa remaja begitu antusias
dalam menggunakan media jejaring sosial untuk melakukan komunikasi. Kebutuhan
untuk memiliki hubungan dengan orang lain pada umumnya tinggi ketika manusia
berada pada tahap perkembangan remaja (Papalia, Olds, & Feldman, 2007).
Masa remaja merupakan periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak
dengan masa dewasa, melibatkan perubahan biologis, kognitif dan
sosial.Perubahan biologis ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan, perubahan
hormonal dan kematangan organ seksual yang ditandai dengan pubertas,kematangan
secara kognitif melibatkan perubahan pemikiran dan intelegensi individu.Secara
sosial ditandai dengan adanya tuntutan untuk mencapai kemandirian dan perubahan
dalam menjalin relasi dengan orang lain dalam konteks sosial (Santrock, 2007).
Khususnya pada masa remaja pertengahan, seseorang lebih banyak
membutuhkan interaksi dengan orang lain untukmemperoleh pembanding dirinya baik
mengenai sikap, pendapat, pikiran atau yang lainnya yang berkaitan dengan
pembentukan jati diri (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011).Berdasarkan
data dari World Economic Forum tingginya penggunaan internet di Indonesia
karena adanya berbagai jejaring sosial yang mudah diakses dan sesuai untuk
kebutuhan penggunanya seperti facebook, dan twitter(Sunggiardi, 2012). Jumlah
pengguna facebook di Indonesia saat ini sebesar 40,4 juta orang dan menduduki
peringkat kedua pengguna facebook terbesar di dunia, sedangkan penggunaan
twitter berada di peringkat keempat sebanyak 22% dari pengguna twitter di dunia
(Arfika, 2012). Perkembangan dalam dunia komunikasi menciptakan pengaruh yang
sangat besar bagi perkembangan sosial dan peradaban manusia.Keberadaan media
jejaring sosial dapat menimbulkan dampak positif dan juga dampak negatif pada
masyarakat khususnya remaja.Dampak positif media jejaring sosial adalah
memperluas jaringan pertemanan, sebagai media penyebaran informasi dan sarana
untuk mengembangkan keterampilan, sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan
akibat penggunaan jejaring sosial secara berlebihan antara lain kecanduan
internet, pencurian identitas, dan meningkatnya sifat antisosial (Raihana,
2009). Semakin banyak masyarakat yang menggunakan jejaring sosial, maka semakin
banyak hal positif maupun negatif yang dapat ditimbulkan baik untuk pengguna
maupun lingkungan sekitarnya.Jejaring sosial merupakan layanan internet yang
ditujukan sebagai komunitas online bagi pengguna yang memiliki kesamaan
aktivitas, ketertarikan, atau kesamaan latar balakang pada bidang
tertentu.Jejaring sosial juga didefinisikan sebagai jaringan pertemanan yang
dilengkapi dengan beragam fitur bagi penggunanya sehingga dapat saling
berkomunikasi dan berinteraksi (Imran, 2009). Penggolongan tipe kepribadian
ekstrovert dan introvertdapat menggambarkan pola komunikasi dan interaksi
sosial setiap individu. Pada saat berkomunikasai dan berinteraksi dengan orang
lain, individu dengan tipe kepribadian ekstrovert adalah individu dengan
karakteristik utama yaitu mudah bergaul, impulsif, tetapi juga sifat gembira,
aktif,cakap dan optimis serta sifat-sifat lain yang mengindikasikan penghargaan
atas hubungan dengan orang lain, sedangkan individu dengan kepribadian
introvert adalah individu yang memiliki karakteristik yang berlawanan dengan
tipe kepribadian ekstrovert, yang cenderung pendiam, pasif, tidak mudah
bergaul, teliti, pesimis, tenang dan terkontrol (Feist & Feist,
2010).Secara umum, individu yang tergolong introvert akan lebih berorientasi
pada stimulus internal
TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT PADA REMAJA
individu
yang tergolong ekstrovert. Individu yang tergolong introvert akan lebih memperhatikan
pikiran, suasana hati dan reaksi-reaksi yang terjadi dalam diri mereka. Hal ini
membuat individu yang tergolong introvert cenderung lebih pemalu, memiliki
control diri yang kuat, dan memiliki keterpakuan terhadap hal-hal yang terjadi
dalam diri mereka serta selalu berusaha untuk mawas diri, tampak pendiam, tidak
ramah, lebih suka menyendiri, dan mengalami hambatan pada kualitas tingkah laku
yang ditampilkan. Sedangkan individu yang tergolong ekstrovert cenderung tampak
lebih bersemangat, mudah bergaul, terkesan impulsif dalam menampilkan tingkah
laku. Individu yang tergolong ekstrovert merupakan seseorang yang berani
melanggar aturan, memiliki rasa toleransi yang lebih tinggi terhadap rasa
sakit, dan lebih mudah terlibat dalam suatu relasi (Burger, 2008).
Intensitas
komunikasi yang dilakukan individu berkaitan dengan faktor tipe kepribadian
yang dimiliki yang dimiliki masing–masing individu, pada tipe kepribadian
ekstrovert maupun introvert.Berdasarkan pertimbangan tersebut, peneliti ingin
mengetahui apakah terdapat perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring
sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja.Penelitian
ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam ilmu psikologi, khususnya
psikologi komunikasi dan psikologi sosial terkait dengan intensitas komunikasi
melalui jejaring sosial pada remaja.Manfaat praktis dari penelitian ini yaitu
remaja mampu menggunakan jejaring sosial secara proporsional dengan
memperhatikan kelebihan dan kekurangan sesuai dengan tipe kepribadian.
Variabel bebas pada penelitian ini yaitutipe
kepribadian ekstrovert dan introvert dan variabel tergantungnya yaitu
intensitas komunikasi.
Definisi operasional dari variabel tipe
kepribadian ekstrovert adalah seseorang yang memiliki sifat periang dalam
berbagai kesempatan, mudah mengambil keputusan, mudah bergaul, senang menerima
tantangan, agresif, dan berubah–ubah, sedangkan individu dengan tipe
kepribadian introvert merupakan seseorang yang sulit dalam mengambil keputusan,
lebihsuka menyendiri, bersikap hati – hati, pasif dan pendiam.
Definisi operasional dari variabel
intensitas komunikasi melalui jejaring sosial adalah komunikasi yang dilakukan
oleh pengguna jejaring sosial dengan orang lain secara online. Intensitas
komunikasi diukur dengan berdasarkan enam aspek intensitas komunikasi antara
lain yaitu frekuensi berkomunikasi, durasi yang digunakan untuk berkomunikasi,
perhatian yang diberikan saat berkomunikasi, keteraturan dalam berkomunikasi,
tingkat keluasan pesan saat berkomunikasi dan jumlah orang yang diajak
berkomunikasi, serta tingkat kedalaman pesan saat berkomunikasi.
Responden dalam penilitia ini adalah siswa
SMA Negri di kota denpasar.
Karakteristik 15-18 tahun, bersedia untuk menjadi responden penelitian, dan
menggunakan jejaring sosial lebih dari 6 bulan. Metode pengambilan sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah stratified proporsional randomsampling.
Teknik sampling ini dilakukan dengan membagi anggota populasi dalam beberapa
sub kelompok atau strata, kemudian sampel dipilih dari masing-masing strata
secara acak berdasarkan status sekolah SMA. pada sekolah-sekolah yang terpilih
selanjutnya dilakukan pemilihan sampel di masing masing sekolah secara acak
untuk mendapat keterwakilan sampel dari masing masing kelas yang ada secara
proporsional. Pemilihan sampel pada masing masing kelas menggunakan data list
yang sudah ada, dan bila terdapat sampel terpilih berhalangan akan digantikan
oleh sampel dengan nomor urut dibawahnya hingga mendapatkan jumlahyang
diharapkan.Berdasarkan hasil proses pengambilan sampel penelitian secara acak
terpilih sekolah SMA Negeri 2 Denpasar, SMA Negeri 3 Denpasar dan SMA Negeri 5
Denpasar sebagaitempat penelitian.Dalam menentukan jumlah populasi pada
penelitian ini menggunakan rumus jumlah sampel menurut Higgins (dalam Bartlett,
Kotrlik, &Higgins, 2001) sehingga diperoleh hasil jumlah sampel dalam
penelitian ini yaitu 240 siswa.
Alat ukur yang digunakan
pada Skala pengukuran tipe kepribadian ini menggunakan
alat tes EPI(Eysenck Persoality Inventory). EPI adalah alat ukur kepribadian
dari Eysenck yang telah baku, EPI digunakan untuk menggolongkan individu ke
dalam beberapa tipe kepribadiandengan pilihan jawaban adalah “ya” dan “tidak”
(Asriasa, 2010). Dalam alat ukur EPI ini peneliti hanya menggunakan dan menilai
aspek yang mengandung penilaian tentang ekstrovert dan introvert yang
disesuaikan dengan tujuan penelitian. Kuesioner terdiri dari 23 item
pertanyaan.Jawaban responden kemudian disesuaikan dengan kriteria (kunci) jawaban
dari tes kepribadian EPIyang telah ada. Apabila jawaban responden sesuai atau
sama dengan kriteria jawaban, maka diberi nilai “1”. Apabila jawaban responden
tidak sama dengan kriteria jawaban maka dinilai “0”. Lalu jumlah skor skala
dicocokkan dengan norma, norma yang dipakai dalam penggolongan tipe kepribadian
ekstrovert dan introvert. Skor ekstrovert mempunyai nilai ≥ 12, sedangkan
introvert mempunyai nilai ≤ Skala Pengukuran Intensitas Komunikasi terdiri dari
pernyataan favorabel dan unfavorabelyang terbagi dalam empat alternatif
jawaban, yakni „sangat tidak setuju‟, „tidak setuju‟, „setuju‟, dan „sangat
setuju‟. Kedua skala tersebut telah diuji validitas dan reliabilitasnya.
Metode pengumpulan data
nya adalah dengan menggunakan dengan menggunakan 2
kuesioner, yaitu kuesioner tipe kepribadian dan intensitas komunikasi.
Kuesioner tipe kepribadian digunakan untuk mengelompokan responden kedalam tipe
kepribadian ekstrovert dan introvert dengan menggunakan kuesioner dengan bentuk
pertanyaan yang diadaptasi dari alat tes EPI (Eysenck Personality Inventory)
yang diberikan kepada responden untuk pemilihan dan penggolongan responden
penelitian, kuesioner untuk mengukur intensitas komunikasi tersedia empat
pilihan jawaban, yakni „sangat tidak setuju‟, „tidak setuju‟, „setuju‟, dan
„sangat setuju‟, dalam kuesioner terdapat arahan mengenai cara menjawab
kuesioner, responden diwajibkan untuk memilih salah satu dari alternatif
jawaban dan juga mengisi lembaran identitas responden.
Tipe
kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja analisis data ini digunakan
untuk membandingkan dua kelompok mean dari dua sampel yang berbeda, dan untuk
mengetahui perbedaan mean antara dua populasi dengan membandingkan dua mean
sample-nya (Sugiyono, 2010).Dalam melakukan analisis data, terdapat dua syarat
yang harus dipenuhi, yaitu dilakukannya uji asumsi berupa uji normalitas dan
uji homogenitas dengan alat bantu perangkat lunak SPSS 17.0 (Sugiyono,2010 ).
Uji normalitas merupakan uji yang dilakukan untuk membuktikan data dari sampel
yang dimiliki berasal dari yang populasi berdistribusi normal, pengujian
dilakukan dengan kolmogorov-smirnov, data dinyatakan berdistribusi normal jika
signifikansi lebih besar dari 0,05 atau 5% (Arikunto, 2006). Uji homogenitas
bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel mempunyaivarian yang homogen
atau tidak, yaitu dengan membandingkan kedua variansnya menggunakan levene‟s
test dengan bantuan perangkat lunak SPSS 17.0. Nilai probalitas lebih besar
dari 0,05 maka data berasal dari populasi yang variansnya samaatau homogen
(Sugiyono, 2010).
HASIL PENELITIAN
Uji
coba alat ukur dalam penelitian ini dilakukan terhadap responden penelitian,
yaitu siswa SMA Negeri di kota Denpasar yang dilaksanakan pada tanggal 1 hingga
5 November 2012. Uji coba penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan kuesioner
kepada 60 orang responden. Data yang telah diperoleh pada saat melakukan uji
coba alat ukur penelitian akan dianalisis untuk mengetahui validitas dan
reliabilitasnya. Berdasarkan hasil uji coba item yang terdiri dari 35 item
kepada 60 orang subyek, diperoleh koefisien korelasi yang bergerak dari -0,121
sampai 0,757. Sesuai dengantaraf signifikan 5% pada tabel korelasi product
moment dengan nilai kritis koefisien korelasi (t tabel) sebesar 0,113, menyatakan
bahwa suatu item dapat dinyatakan valid apabila nilai r hitung > r tabel,
dalam penelitian ini item yang memiliki nilai koefisien korelasi dibawah nilai
kritis koefisien korelasi (t tabel) digugurkan, sehingga terdapat 7 item gugur
dan 28 item valid pada skala intensitas komunikasi, dengan indeks koefisien
korelasi yang bergerak dari 0,232-0,742.
Berdasarkan
hasil pengujian reliabilitas koefisien alpha (α) pada skala intensitas
komunikasipada saat uji coba adalah 0,907, sedangkan hasil koefisien alpha(α)
pada saat penelitian adalah 0,886, hal ini menunjukkan bahwa alat ukur
intensitas komunikasi dalam penelitian ini memiliki reliabilitas yang baik.
Pada skala tipekepribadian, peneliti menggunakan alat tes EPI (Eysenck
Personality Inventory) yang sudah baku. Hasil adaptasi alat ukur itu telah
banyak digunakan di Indonesia dengan validitas internal konsistensi yang baik
dan tingkat reliabilitas alpha cronbach‟s berkisar antara 0,89–0,93 untuk
ekstrovert-introvert (Syafiq, 2010).Dari hasil uji normalitas awal dengan
sampel 240 orang, diketahui bahwa sebaran data pada variabel intensitas
komunikasi memiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0.027 atau
memiliki probabilitas dibawah 0,05 (p < 0,05), hal tersebut menunjukan bahwa
data berdistribusi tidak normal. Berdasarkan penjelasan pada bab III tentang
normalitas, adapun cara agar data dapat berdistribusi normal, dapat dilakukan
dengan cara menghilangkan outliers dari sampel penelitian dengan alat bantu
perangkat lunak SPSS 17.0. Hasil yang diperoleh setelah menghilangkan outliers
sebanyak 22orang responden, sehingga sebaran data pada variabel intensitas
komunikasi memiliki nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0.084 atau
memiliki probabilitas di atas 0,05 (p > 0,05) dengan jumlah sampel terpilih
yaitu 218. Dengan mengacu kepada pedoman penentuan normalitas data seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya, menunjukkan bahwa sebaran data pada variabel
intensitas komunikasi dalam penelitian ini adalah bersifat normal.Hasil uji
homogenitas telah dilampirkan dalam halaman lampiran. Dari hasil uji
homogenitas, diketahui bahwa varianspada setiap kelompok penelitianmemiliki
nilai signifikansi dengan probabilitas (p) 0,075 atau memiliki probabilitas di
atas 0,05, haltersebut menunjukkan bahwa varianpada setiap kelompok yang diuji
dalam penelitian bersifat homogen.
Setelah
kedua syarat untuk melakukan analisis data telah dipenuhi, dilanjutkan dengan
menggunakan metode analisis independent samples t test dengan alat bantu
perangkat lunak SPSS 17.0.
Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh nilai signifikansi p sebesar
0,000 atau lebih kecil dari 0,05 pada taraf signifikan 0,05, sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring
sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja, sehingga
hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “Ada K. S. WIDIANTARIDAN DAN Y. K.
HERDIYANTO 112 perbedaan intensitas komunikasi melalui media jejaring sosial
antara tipe kepribadian ekstrovert dan introvert pada remaja” dapat diterima,
sedangkan hipotesis nol (Ho) yang berbunyi “Tidak ada perbedaan intensitas
komunikasi melalui media jejaring sosial antara tipe kepribadian ekstrovert dan
introvert pada remaja” ditolak.
Terkait dengan adanya perbedaan intensitas
komunikasi pada kedua kelompok tipe kepribadian, dapat diperjelas dengan adanya
pengkategorian kelompok yang memiliki skor intensitas komunikasi dari yang
paling tinggi hingga yang paling rendah. Pengkategorian ini dilakukan dengan
menggunakan rumus pengkategorian skor dari Azwar (2000).
Berdasarkan
kasus di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kelompok introvert memiliki
skor intensitas komunikasi yangrendah,sedangkan kelompok ekstrovert memiliki
skor intensitas komunikasi yang tinggi.
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
Manusia sebagai makhluk sosial memiliki
suatu kebutuhan atau keinginan untuk menciptakan, menjalin dan menjaga suatu
hubungan positif dengan orang lain (Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011).
Dalam menjalin komunikasi perbedaan dapat terlihat pada tipe kepribadian
ekstrovert dan introvert, yaitu individu introvert mempunyai kesulitan dalam
bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain disekitarnya, hal ini
dikarenakanindividu introvert mencurahkan fokos lebih kedalam diri dari pada
diluar dirinya, individu introvert kurang memberikan perhatian lebih terhadap
orang-orang yang ada disekitarnya dan lebih merasa nyaman dalam kesendirian
serta tergolong orang yang mempunyai sifat pemalu. Hal ini sangat berbeda
dengan tipe ekstrovert yang mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru serta
tidak mengalami kesulitan untuk dapat menjalin hubungan sosial dengan
orang-orang disekitarnya (Suryabrata, 2002).
Menurut
Jung (dalam Friedman & Schustack, 2008)individu dengan tipe kepribadian
ekstrovert mempunyai karakteristik lebih ekspresif dalam menyampaikan setiap
emosi yang dirasakannya, sehingga hal tersebut membuat orang dengan tipe
kepribadian ekstrovert akan lebih mudah untuk mengekspresikan setiap emosi yang
dirasakan dengan cara senantiasa menjalin komunikasi secara rutin serta
memiliki sifat terbuka, individudengan tipe kepribadian ekstrovert tidak
mempersalahkan untuk menyampaikan segala hal, perasaan dan emosi yang
dirasakannya melalui berbagai media, salah satunya yaitu jejaring
sosial.Pengguna jejaring sosial dengan tipe kepribadian introvert, tidak mudah
untuk mengekspresikan dan menyatakan segala hal yang dirasakannya melalui
jejaring sosial. Hal ini disebabkan karena tipe kepribadian introvert lebih
cenderung mempunyai sifat tertutup, kurang ekspresif dan cenderung berpikir
secara mendalam sebelum memutuskan untuk melakukan suatu tindakan(Friedman
& Schustack, 2008). Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa jejaring sosial
telah mampu memfasilitasi remaja untuk menjalin relasi dan komunikasi dengan
orang lain tanpa dibatasi jarak dan waktu, sehingga pengguna jejaring sosial
dapat memenuhi kebutuhan komunikasi mereka, sehingga hasilnya adalah semakin
tinggi intensitas komunikasi menggunakan jejaring sosial, semakin memenuhi
kebutuhan individu untuk mencari dan menjalin pertemanan dengan orang lain
(Yoseptian, Soewondo, & Zulkaida, 2011).
Hal
tersebut menunjukan bahwa intensitas komunikasi individu dengan tipe
kepribadian ekstrovert lebih tinggi dibandingkan individu dengan kepribadian
introvert. Penjelasan mengenai intensitas komunikasi yang tinggi pada individu
dengan kepribadian ekstrovert, dijelaskan Jung (dalam Suryabrata, 2002), Jung
menyatakan bahwa pada dasarnya individu dengan tipe kepribadian introvert
cenderung lebih menyukai aktivitas yang tidak melibatkan orang-orang
disekitarnya dan memberikan perhatian lebih berpusat pada diri sendiri. Hal
inilah juga yang membedakan kebutuhan komunikasi antara tipe kepribadian
introvert dengan tipe kepribadian ekstrovert, hal ini dikarenakanindividu
dengan tipe kepribadian ekstrovert lebih menyukai aktivitas yang melibatkan
banyak orang dan lebih berfokus pada dunia diluar dirinya atau dapat diartikan
lebih mencurahkan perhatian kepada orang-orang yang ada disekitarnya
dibandingkan diri sendiri.
Berdasarkan
perbedaan-perbedaan karakteristik yang terdapat pada individu dengan tipe
kepribadian ekstrovert dan introvert, sesungguhnya hal inilah yang menyebabkan
perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring sosial antara individu dengan
tipe kepribadian ekstrovert mempunyai intensitas komunikasi yang lebih tinggi
dibandingkan individu dengan tipe kepribadian introvert.
Selanjutnya peneliti mencoba untuk mengkaji
secara lebih dalam beberapa hal terkait dengan komunikasi melalui jejaring
sosial, antara lain yaitu perbedaan intensitas komunikasi melalui jejaring
sosialantara laki-laki dan perempuan, analisis untuk uji perbedaan menggunakan
independent sampel t-test. TIPE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar